Sabtu, 27 Agustus 2011

Sedekah

Ketika seorang hamba menyadari bahwa semua miliknya hanyalah titipan Allah yang harus disampaikan kepada yang berhak, serta semua hanya bersifat sementara, maka ia akan menjadi ringan tangan untuk menyisihkan sebagian hartanya di jalan Allah.
Kita ketahui semua manusia mengiinginkan mempunyaii harta yang cukup ataupun menjadi orang yang kaya dalam kehidupannya, begitu juga dengan hamba-hamba Allah di atas, mereka memiliki keinginan untuk memiliki harta yang banyak dan menjadi kaya, namun mereka tidak terkuasai oleh nafsu yang melalaikan mereka dari bersedekah. Bagi mereka sedekah tidaklah mengurangi harta, melainkan, sedekahlah faktor penting yang menjadikan harta mereka banyak sekaligus berkah dan manfaat.
Bagi orang-orang seperti ini Allah SWT telah menjanjikan balasan yang sangat banyak, Allah berfirman,



"Barangsiapa yang membawa amal kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat dari amalnya. Dan barangsiapa yang membawa amal yang buruk, tidak akan diberi pembalasan, kecuali dengan yang buruk seperti itu pula. Dan mereka tidak dirugikan sedikitpun juga.(QS-Al-An'am 160)

Alangkah beruntung orang yang bersedekah karena harta yang dikeluarkannya justru mendatangkan jumlah yang lebih banyak, dan bilangan sepuluh seperti yang Allah janjikan dalam firmanNya di atas adalah batas minimal yang akan Allah berikan bagi para golongan yang dicintainya ini. Bahkan di surat yang lain, Allah janjikan balasan yang lebih banyak. ِAllah berfirman :


مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqoroh:261).

Orang yang terbiasa bersedekah akan luntur kecintaanya akan materi, sehingga ia pun tidak menjadi budak harta. Ketika bersedekah, ia akan tambah bersyukur, karena betapapun sulit hidup yang dijalani, masih banyak orang orang yang berada dalam kemiskinan yang tentunya dalam keadaan yang lebih sulit darinya.

Dunia bukanlah surga, yang ketika seorang hamba meminta sesuatu, langsung dikabulkanlah permintaanya di hadapannya. Di dunia, jika seseorang meminta rizki kepada Allah, tidaklah rizki itu langsung jatuh di hadapannya, tapi Allah berikan melalui tangan hambaNya kepada kita.

Ada orang yang Allah jadikan sesekali menyalurkan rizkiNya kepada hambaNya, namun ada juga orang yang Allah jadikan terus menerus menyalurkan rizkiNya kepada hamba-hambaNya, orang yang kedua ini lah yang menjadi "Tangan Kanan Allah" dimuka bumi. Untuk orang seperti ini Allah berilah harta yang banyak, karena harta yang banyak itu akan ia sampaikan kepada hamba Allah yang lainnya.
Maka barang siapa yang  ingin menjadi "Tangan Kanan Allah" di muka bumi ini, maka harus rajinlah ia bersedekah, karena dengan bersedekah berarti kita telah menjalankan perintahNya untuk menyalurkan titipanNya, dengan itu Allah akan semakin sering menitipkan hartanya kepada kita bahkan dengan jumlah yang lebih banyak.

Maka alangkah indahnya seseorang berdoa untuk kaya tidak menjadikan dirinya saja sebagai objek yang dijadikan kaya, semisal berdoa "Ya Allah berikanlah aku kekayaan yang banyak", itu hanyalah untuk dirinya sendiri, dan bisa jadi kekayaannya itu melalaikannya. Hendaklah seorang hamba berdoa "Ya Allah jadikanlah aku orang yang mampu bersedekah kepada 10.000 anak yatim" atau "Ya Allah berikanlah aku kemampuan untuk menghajikan keluargaku atau orang islam lainnya" Karena jika Allah mengabulkan doa itu tentulah ia sudah menjadi orang kaya, dan ketika kita berdoa untuk orang lain, maka hal yang kita doakan akan berlaku pula pada kita.

Bersegeralah bersedekah, karena ialah yang akan terus memberikan kepada kita pahala di saat yang lain tiada lagi berguna kecuali tiga, dalam hadits Rasulullah bersabada :  
 
" إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : علم ينتفع به ، وصدقة جارية ، وولد صالح يدعو له  "

 “Apabila telah mati seorang anak Adam(manusia), maka terputuslah amalnya melainkan tiga perkara yaitu sadaqoh jariyyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya.”(HR. Muslim)

Rabu, 17 Agustus 2011

Arti Kesahatan

Kita tak akan pernah benar benar mengetahi betapa penting arti kesehatan sampai saat ia pergi dari sisi kita.
Orang telah banyak mengenal seribu satu macam penyakit, jenisnya, sebabnya, serta akibat yang ditimbulkan penyakit itu. Namun semua hal diatas lebih sering menjadi sebatas pengetahuan.

Kita tak akan pernah mengeluarkan air mata terhadap tangan kita yang tidak sakit, tapi sadarkah kita, betapa banyak air mata yang telah jatuh dari orang yang telah kehilangan tangannya. Kita tak akan besedih hati mendengar sesorang sehat yang bertanya apakah malam ini terlihat indah atau tidak, tapi air mata kita pasti akan membasahi pipi jika pertanyaan itu keluar dari seseorang yang mengalami kebutaan sejak kecil, sesorang yang tidak tahu bentuk bulan, matahari, tumbuhan, binatang, bahkan mungkin dirinya sendiri ia tidak mengetahui.

Orang yang sedang sakit tahu betul kesehatan sangat berharga, seorang yang sehat dapat berlari kemanapun ia mau, berteriak sepuasnya, makan berbagai macam makanan. dan tertawa lebar. Namun bagi si sakit, itu adalah hal yang jauh dari dirinya. Ia hanya bisa berdiam diri di kamar, memenuhi mulutnya dengan berbagai macam obat, mendengar canda tawa orang yang sedang bergembira tanpa ia ikut merasakan kegembiraan itu.

Namun, saat ini  tidak lagi kita perlu menunggu sakit untuk mengerti arti kesehatan, cukuplah kita merasakaan kesakitan, dan kesedihan yang di rasakan si sakit, memposisikan bahwa yang mengalami dan merasakan sakit adalah diri kita, bukan dia, merasakan tidak bisa melakukan segala hal dengan bebas dan hanya mampu melakukan hal yang terbatas, merasakan penderitaan itu adalah milik kita.

Jadikanlah pengalaman orang lain seakan akan pengalaman kita. Sehingga, termotivasilah kita untuk menjaga kesehatan dengan baik.

Selasa, 16 Agustus 2011

Memanfaatkan Bumi Dengan Bijaksana


Memanfaatkan Bumi Dengan Bijaksana

Orang yang singgah di rumah seseorang untuk beberapa waktu, atau yang sering kita sebut dengan menumpang, selayaknya menjaga baik-baik harta yang terdapat di rumah itu dari tindakan tindakanya yang merugikan penghuni rumah yang ditumpanginya.
Jika kita perhatikan posisi kita sebagai manusia terhadap Allah, maka tidak ada bedanya kita dengan tamu tamu yang singgah menumpang di rumah seseorang. Karena Seluruh manusia adalah makhluk-makhluk yang menumpang di Bumi Allah.
Namun, Allah memberikan keluluasaan kepada manusia untuk bebuat hal-hal yang positif di bumi yang mereka tumpangi. Allah sediakan bagi mereka bumi yang terhampar luas yang dapat ditanami beraneka ragam tumbuhan yang memberi kehidupan bagi mereka. Allah jadikan laut terbentang dengan megahnya menyimpan beraneka ragam barang barang yang sangat bermanfaat bagi manusia, dari ikannya, karang, rumput laut dan lainnya.
Kenapa demikian, karena hal ini adalah bentuk aplikasi dariFirman Allah yang berbunyi : Inni Ja’ilun fil ardi kholifah. Sesungguhnya aku akan menjadikan dimuka bumi ini khalifah. Ini adalah bentuk legalisasi Allah atas perbuatan kita dunia. Namun, tidak sembarang pembuatan yang diizinkan, hanya perbuatan yang bertanggung jawab, terpuji dan mengikuti aturan Allah yang di izinkan.
Namun bila perbuatan yang dilakukan sebaliknya maka, maka janji Allah itu akan berganti dengan sanggahan maliakat setelah Allah Memfirmankan ayat tadi. Malaikat berkata ”Ataj’lu fiiha man yufsidu fiiha wa yasfiku addima, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqodddisulak” Artinya ”Apakah engkau hendak menjadikan makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi, padahal kami senantiasa bertasbih dan memujiMu”
Kunci dari dua kemungkinan yang akan terjadi terletak pada satu aspek, Nafsu. Manusia memang Allah lebihkan dengan akal, namun manusia juga diberikan kelemahan dengan nafsu. Ketika nafsu menguasai pikiran, maka seluruh jiwa dan raga akan tunduk kepada perbuatan yang tidak di ridhoiNya. Seorang muda-mudi yang terhanyut pada nafsu, akan masuk kedalam jurang kenistaan. Seorang pengusaha yang diliputi dengan naffsu, akan masuk kedalam perbuatan yang menyimpang demi meraih hal yang diinginkannya. Seorang pemimpin yang dikuasai nafsu akan menghalalkan segala cara untuk menraih apa yang diinginkannya.
Maka jika manusia ingin meraih janji Allah sebagai kholifah di muka bumi, terlebih dahulu haruslah ia menang atas nafsu yang diberikan kepadanya dan mengarahkannya kepada hal yang bersifat positif.
Betapa banyak manusia yang kalah dengan nafsunya. Ia rusak bumi, ia tebangi hutan tanpa iba, iya rusak laut dengan bom bom beracun, ia rusak udara dengan polusi-polusi  yang menyengsarakan masyarakat. Mereka rakus akan harta, kekuasaan, tahta dan wanita, sehingga mereka saling berperang, bermushan serta bunuh membunuh, maka benarlah apa yang dikatakan malaikat kepada Allah : ”Apakah engkau hendak menjadikan makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi, padahal kami senantiasa bertasbih dan memujiMu”
Untuk itu manusia harus memenangi pertempuran melawan nafsu yang bersembunyi di dalam hati, ia harus ingat bahwa nafsu yang tiada terkontrol hanya akan membawa kehancuran.
Alangkah indah pribadi yang bisa mengendalikan nafsunya, ia menyayangi tanaman, hewan, dan alam. Ia tidak terpengaruh dengan ketamakan dan kecintaan berlebihan akan hal-hal bersifat duniawi, ia selalu berusaha berbuat kebaikan. Ia membangun bukan meruntuhkan. Pribadi pribadi yang mampu menguasai nafsunya merekalah para khalifah sebenarnya di bumi Allah ini.

Islam Pemersatu Umat Manusia


Islam Pemersatu Umat Manusia

Umat manusia diciptakan beraneka ragam dan tersebar di seluruh dunia. Saat ini kita kenal ada lima benua besar yang menjadi tempat tinggal manusia dengan berbagai corak yang berbeda ; Agama, warna kulit, bahasa, adat, budaya, pendidikan, alam dan hal lainnya.
Jika membahas perbedaan yang ada dan mengganggap perbedaan itu sebagai alasan untuk sebagian golongan menganggap golongannya lebih tinggi dan terhormat, dunia akan terpenuhi dengan sikap permusuhan yang diawali dengan rasa kesombongan dan rasa sakit hati ata­­­­s peremehan.
Islam mengakui umat manusia berbeda, tapi dalam islam intinya kita satu, yakni hamba Allah yang diciptakan untuk menghamba kepadaNya. Perbedaan dalam islam hanya terletak pada sebesar apa ketakwan kepada Allah.
Karena itulah agama Islam membawa misi persatuan antara seluruh umat manusia. Mengingatkan kembali kepada manusia bahwa mereka berasal dari 2 manusia yang sama, Adam dan Hawa. Mengingatkan kembali kepada mereka bahwa mereka haruslah beribadah dan menghamba kepada tuhan yang sama yang Esa, Allah swt. Mengingatkan kembali kepada mereka bahwa tempat kembali mereka hanya dua tempat kembali bagi mereka, Neraka dan Surga.
Tentu kita masih ingat betapa kejamnya umat terdahulu menjadikan saudaranya sebagai budak yang dihargai layaknya barang dagangan, yang dapat disuruh hal apa pun, dapat diperbuat apapun layaknya binatang peliharaan, itulah perbudakan. Lalu islam muncul dan menghapuskannya.
Ingatlah kita bagaimana wanita di berbagai tempat sebelum datangnya islam dijatuhkan harkat dan martabatnya. Di indi misalanya, wanita yang ditinggal mati maka harus dibakar hidup-hidup dengan mayat suaminya. Di arab wanita yang sedang dalam masa manstrubasi dikucuilkan dan disuruh untuk ke gunung hingga habis masa haidnya, karena dianggap tidak lebih dari sekedar najis. Lalu datanglah islam mengabarkan bahwa kedudukan wanita sederajat dengan pria. Bahkan dalam suatu kesempatan nabi bersabda bahsanya kedudukan ibu, yakni perempuan, lebih tinggi dari pada ayah.
Ajaran islam adalah ajaran pemersatu yang tidak ditujukan untuk menjadi peganagan segolongan orang saja, tapi ditujukan penuh menyeluruh kepada umat manusia. Dan agama  islam sajalah yang dapat mengatasi segala problematika kehidupan manusia, karena semua yang terdapat di dalam islam yang bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits adalah aturan yang cibuat tuhan, segala sesuatu memiliki aturan, dan orang yang mampu menang adalah orang yang mengikuti peraturan. Maka, barang siapa yang ingin memenangi dunia dan akhirat maka haruslah ia mengikuti aturan yang ada, yang semua telah terdapat dalam agama islam.

 

Bersahabat Dengan Sahabat


Menjalin hubungan baik adalah hal mulia dan sangat dianjurkan dalam islam, dalam sebuah hadits nabi bersabda “ Man araada an yubsatu lahu rizkuhu wa yunsaa lahu umrahu fal yasil rahimahu” Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan luaskan rizkin, maka hendaklah ia menjalin silaturrahmi”
Bila kita lihat, umat manusia diciptakan sebagai mahkluq soisal, sejak lahirnya ke dunia, ia akan selalu dan selalu membutuhkan bantuan sesamanya. Bayi yang baru lahir, lalu dibiarkan begitu saja, tanpa diperhatikan maka akan mati begitu saja, karena ia tiada memiliki daya,
Dalam setiap level kehidupan hal yang samapun berlaku, orang kaya membutuhkan para pekerja untuk mengerjkan hal yang ingin dicapainya, seorang siswa membutuhkan guru yang mengajrkan kepadanya ilmu, dan orang yang sakit membutuhkan dokter yang menyembuhkan penyakitnya. Entah berda di desa ataupun di kota semua manusia membutuhkan manusia lainnya.
Ketika melihat kepada diri kita saja, kita bisa menemukan kebenaran pernyataan diatas. Mulai dari baju yang kita kenakan, celana, sendal, sepatu, barang elektronik, perabotan rumah tangga, aksesoris, furnitur dan lainnya, kita tidak akan mampu mengadakan semua benda itu dengan tangan kita sendiri. Kita membutuhkan tangan-tangan manusia lainya untuk mengerjakan semua hal itu.
Jika jelas kita tak dapat hidup sendiri, maka sudah sepantasnyalah kita melakukan hubungan yang baik dengan sesama, dalam hal ini Islam sangat banyak membicarakannya, seperti perintah untuk berbakti kepada orang tua, berlaku baik kepada tetangga, anak kecil menghormati orang tua, orang tua menyayangi yang lebih muda, berlaku lembut adalah sebagian dari sekian banyaknya hal yang diperintahkan dalam agama dalam bergaul dengan sesama hamba Allah.
Patutlah kita meyakini, bahwa interaksi dan jalinan hubungan yang baik akan berbuah hal-hal yang baik pula, seorang pemimpin yang berlaku baik kepada bawahannya, ia akan dihormati dan ditaati, seorang guru yang menyayangi muridya, akan mendapat hal yang sama dari muridnya, tidak terdapat permusuhan, tidak ada perpecahan, sehingga pikiran kita tidak dihantui dengan rasa khwatir dan cemas akan bahaya orang-orang di sekitar kita. Pikiran pun diliputi kedamaian dan ketentraman.
Namun jika sebilknya yang kita lakukan, akan mengakibatkan hal yang sebaliknya juga. Kita bertindak semena-mena, berkata kasar, padahal betapa banyak permusuhan dan pertikaian yang bermula dari terpelesetnya lidah, Untuk itu hendaklah kita mengikuti tuntunan yang memang sengaja dibuat untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi baik yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-hadits.


Berlaku Baik Kepada Sesama


Menjalin hubungan baik adalah hal mulia dan sangat dianjurkan dalam islam, dalam sebuah hadits nabi bersabda “ Man araada an yubsatu lahu rizkuhu wa yunsaa lahu umrahu fal yasil rahimahu” Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan luaskan rizkin, maka hendaklah ia menjalin silaturrahmi”
Bila kita lihat, umat manusia diciptakan sebagai mahkluq soisal, sejak lahirnya ke dunia, ia akan selalu dan selalu membutuhkan bantuan sesamanya. Bayi yang baru lahir, lalu dibiarkan begitu saja, tanpa diperhatikan maka akan mati begitu saja, karena ia tiada memiliki daya,
Dalam setiap level kehidupan hal yang samapun berlaku, orang kaya membutuhkan para pekerja untuk mengerjkan hal yang ingin dicapainya, seorang siswa membutuhkan guru yang mengajrkan kepadanya ilmu, dan orang yang sakit membutuhkan dokter yang menyembuhkan penyakitnya. Entah berda di desa ataupun di kota semua manusia membutuhkan manusia lainnya.
Ketika melihat kepada diri kita saja, kita bisa menemukan kebenaran pernyataan diatas. Mulai dari baju yang kita kenakan, celana, sendal, sepatu, barang elektronik, perabotan rumah tangga, aksesoris, furnitur dan lainnya, kita tidak akan mampu mengadakan semua benda itu dengan tangan kita sendiri. Kita membutuhkan tangan-tangan manusia lainya untuk mengerjakan semua hal itu.
Jika jelas kita tak dapat hidup sendiri, maka sudah sepantasnyalah kita melakukan hubungan yang baik dengan sesama, dalam hal ini Islam sangat banyak membicarakannya, seperti perintah untuk berbakti kepada orang tua, berlaku baik kepada tetangga, anak kecil menghormati orang tua, orang tua menyayangi yang lebih muda, berlaku lembut adalah sebagian dari sekian banyaknya hal yang diperintahkan dalam agama dalam bergaul dengan sesama hamba Allah.
Patutlah kita meyakini, bahwa interaksi dan jalinan hubungan yang baik akan berbuah hal-hal yang baik pula, seorang pemimpin yang berlaku baik kepada bawahannya, ia akan dihormati dan ditaati, seorang guru yang menyayangi muridya, akan mendapat hal yang sama dari muridnya, tidak terdapat permusuhan, tidak ada perpecahan, sehingga pikiran kita tidak dihantui dengan rasa khwatir dan cemas akan bahaya orang-orang di sekitar kita. Pikiran pun diliputi kedamaian dan ketentraman.
Namun jika sebilknya yang kita lakukan, akan mengakibatkan hal yang sebaliknya juga. Kita bertindak semena-mena, berkata kasar, padahal betapa banyak permusuhan dan pertikaian yang bermula dari terpelesetnya lidah, Untuk itu hendaklah kita mengikuti tuntunan yang memang sengaja dibuat untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi baik yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-hadits.


Mensyukuri Nikmat Tuhan


Allahu Akbar

Pagi ini aku terbangun dari tidurku yang nyeyak, hal yang pertama kuucapkan adalah ALHAMDULILLAH, itu kuucapkan atas rasa kesyukurannku kepada Allah pagi ini. Bagaimana mungkin aku tidak bersyukur, sedang hari ini aku masih bias menghirup udara dengan Cuma-Cuma, bebas sesuka hatiku, aku tidak memerlukan tabung oksigen yang begitu mahal untuk bernafas. Aku pun bias mendengarkan bermacam-macam suara tanpa harus menggunakan alat pendengaran. Mata jernihku dapat melihat segala sesuatu yang kukehendaki tanpa memerlukan bantuan lensa kacamata. Ketika kurenggangkan tubuhku seperti biasanya yang kulakukan setelah tertidur, kembali kuucapkan alhamdulillah, karena seluruh badanku masih utuh tanpa kurang sedikitpun, tangan kaki perut leher dan kepala.
Allah sungguh baik padaku, tahukah kamu, aku tak pernah meminta kepadanya semua hal itu, tapi dengan kasih sayangnya ia memberikan semuanya Cuma-Cuma walau tanpa aku meminta ataupun mengemis kepadanya.
Allah sangat baik kepadaku ia berikan 5 waktu dalam sehari bagiku jika aku menghendaki untuk menghadapnya, bahkan jika aku menginginkan aku bisa menambah waktu untuk bertemu dengannya, Ketika itu aku boleh meminta apapun darinya, kebahagiaan, keluarga, teman, sekolah, uang, dan yang terpinting yang kupinta darinya adalah ridhonya akan diriku dan surganya, dan pelindungan dari kemarahannya dan surganya, seperti yang pernah kudengar dari sabda Nabi Muhammad SAW.
Kesyukuranku tak terhenti di situ, pagi pagi benar ibu telah menyambutku dengan sarapan sebelum berangkat sekolah, ditemani dengan ayah dan adik adikku. Alhamdulillah aku memiliki keluarga yang menyayangi dan mencintaiku, aku tak merasakan kesepian dalam hidupku.
Entah berapa kali harus kukatakan padamu aku sangat bersyukur kepada Allah. Kutinggalkan rumah, giliran sekolah dan teman-teman menyapaku. Alangkah senangnya aku bisa bersekolah, memiliki teman yang banyak, guru yang baik, perhatian, dan penyayang yang rela mengorbankan waktunya untuk mendidikku. Aku belajar banyam hal di sekolah, dan meraih banyak hal darinya,
Di sore hari akupun kembali bersyukur, karena Allah memberikaku teman sepermainan yang baik bagiku. Hingga datang waktu kembali aku tidur, berbagai pemberian Allah telah menemaniku, dan menentramkan jiwaku, hanya sedikit yang kuminta dari-Nya tapi begitu banyak yang ia berikan kepadaku.
Hanya Allahlah pemilik hidupku, Ialah yang selalu memberi, mengasihi dan menyayangiku, ia ampuni segala dosaku, ia berikan balasan yang terbaik atas segala ketaatanku padanya. Ia yang memberiku nafas, pendengaran, penglihatan, kemamuan berfikir, bergerak, berkarya dan berbuat.
Tiada hal yang bisa kuberikan kepada Allah, namun aku hanya bisa beribadah kepadanya dan mengucapkan kesyukuranku terus menerus atas segala kebaikan yang diberikanNya dan segala keburukan yang telah dihindarkannya.
Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, Wallahu Akabar.

Senin, 15 Agustus 2011

Motivasi Dari Pohon Mangga

Dahulu kala di pegunungan yang tinggi di pulau sumatra terdapat satu keluarga yang memiliki tiga anak laki-laki. Anak pertama adalah akbar telah bersikap dewasa walau usianya baru 15 tahun. Yang Kedua bernama Wasat yang rajin namun mudah goyah dan tidak konsisten. dan anak terakhir bernama Wildan yang memiliki sikap manja dan pemalas.
Suatu ketika sang ibu memanggil putra-putra kesayangannya itu. Kemudian kepada masing masing anaknya ia berikan biji-biji mangga yang sama kualitasnya. Ia perintahkan putra-putranya untuk menanam biji-biji itu di tempat yang berdekatan dan merawatnya dengan baik, dan jika tiba masa panen ia perintahkan putra-putranya untuk menjual buah mangga agar bisa menghasilkan uang.
Sore harinya anak anak itu pergi ke kebun masing masing dan memulai menanam biji biji yang diberikan oleh ibunda mereka. Cangkul, alat penyiram, skop tak lupa mereka bawa agar bisa menanam dengan baik. Setelah selesai menggali dan menanam tibalah giliran untuk mengairi. Lalu mereka pun pulang kerumah, namun Akbar anak pertama tak segera pulang setelah mengairi tanamannya, ia membawa bekal lebih untuk tanaman barunya, pupuk, Segeralah ia pupuki tanamannya dan pulang kerumah.

Hari hari pun berjalan, pada bulan-bulan pertama setiap hari semua dengan rajin pergi merawat tanamnnya. Namun setelah 6 bulan berlalu, Walid, anak terkecil, mulai jarang menyirami tanamannya apalagi memupuknya, ia pun tak mengusir hama hama yang menggangu dengan tanamannya. Wasiat sedikit berbeda dengan adiknya. Ia dengan rajin menyirami tanamannya, namun hanya kadang-kadang ia memberi pupuk, dan hama hama yang hinggap tak dihiraukannya.
Akbar berbeda dengan adik-adiknya, ia sirami dengan rajin tanamannya, ia berikan pupuk secara teratur, dan jika datang hama yang mengganggu ia singkirkan sehingga tanamannya tidak samapi rusak oleh ulah hama. Namun satu minggu sebelum panen mereka harus pergi ke luar kota dan meninggalkan tanamannya berkunjung ke kuluagra mereka.

Akhirnya datanglah musim panen. Dengan semangat mereka berangkat ke kebun masing masing, dengan membawa bakul-bakul buah yang besar, mereka pergi sambil bernyaniyi ria, menyambut hasil yang akan di panen.
Alangkah terkejutnya Walid melihat pohon-pohon mangga miliknya hanya berbuah sedikit, dan ketika dipetiknya satu persatu buah, ternyata buah itu telah dimakani kalong dan hewan lainya sehingga hanya tersisia sedikit.
Tiba giliran Wasat memanen buahnya. Pohon Wasat berbuah banyak, namun sayang, ketika ia petik buah itu banyak yang kecil-kecil dan di makani oleh hewan malam.
Tibalah giliiran Akbar. Dengan semangat ia panjat dan petik satu persatu buah dari pohon mangganya. Ia sangat gembira, karena dari semua pohon yang ditanam saudara-saudaranya, pohon dialah yang paling banyak berbuah. Besar, dan hampir tidak terdapat hewan yang memakan buahnya, karena sebelum buah itu siap dipanen ia telah bungkusi satu persatu buah yang dapat dijangkaunya agar tidak dimakan oleh hewan.
Kini tersadarlah mereka bahwa sebesar usaha yang mereka lakukan. sebesar itu pulalah hasil yang mereka dapatkan. Dan usaha terbaiklah yang menghasilkan hasil terbaik.

Kamis, 11 Agustus 2011

Pemuda Kunci Bangsa

Teringat kembali sebuah pepatah Arab yang disampaikan oleh Ustadzku ketika berada di Pondok Pesantren. Inna al-syabâba wa al-farâgha wa al-jidata mafsadatun li al-mar’i ayya mafsadatin, “Sungguh, masa muda, kekosongan dan kelapangan rizki menjadi ‘pintu kerusakan’ bagi setiap orang”.
Masa muda adalah masa emas. namun emas ini bukanlah layaknya emas sungguhan yang tidak akan pudar kilaunya biar ditaruh dalam kondisi apapun, tidak berkarat walau di guyur air terus menerus, Namun masa muda amat rentan jatuh kedalam kesia-siaan dan menjadi tidak berarti.
Sebelum meninjau apa yang seorang pemuda harus lakukan dalam mengisi waktunya. hendaklah kita melihat betapa amat besar peran yang dapat di emban oleh pemuda dan akibat dari penyimpangannya.
Pemuda adalah tonggak kehidupan suata bangsa. Bangsa akan jaya jika pemuda ikut andil dan memberikan konstsribusi positif kepada bangsanya. Di zaman dahulu peranan pemuda sangat kentara. semua kita yakin para pembela bangsa ketika datang musuh yang ingin menyerang dan menjajah adalah para pemuda, merekalah yang maju ke garis terdepan, mengangkat senjata, menyingsingkan lengan, mencengkram tanah dengan kaki bergelora semangat membela tanah air. mengemankan pekikan kebebasan demi bangsa yang dicintainya. Para pemuda dipilih untuk ini karena hanya merekalah yang sanggup memikul beban yang amat berat.
Kita tidak meliha seorang kakek kakek yang sudah lanjut usia maju kemedan perang menghunus pedang berteriak teriak memekikan suara kebebasa. Karena masa mereka telah lalu dan mereka takkan sanggup memikul beban itu.
Ketika telah aman bangsa  dan memasuki masa pembangunan, maka pemuda dituntut untuk turut serta memajukan dan memakmurkan kehidupan. Pribadi pribadi yang tiada mengenal kata lelah dan selalu memiliki semangat yang menggelora menjadi kunci sukses kemajuan suatu bangsa. dan itu semua dimiliki oleh pemuda.
Namun ketika pemuda tidak berfungsi sebagaimana mestinya, makan ia akan menjadi mahkluk yang sangat berbahaya bagi bangsanya. ia laksan singa yang masuk kedalam sebuah perkampungan. menimbulkan kekhwatiran, keresahan, ketakutan bahkan menimbulkan banyak korban.
Bagaimana jadinya jika musuh berada di depan mata namun para pemuda mangkir dari kewajiban dan memilih untuk menikmati hidup dengan mengejar kesenangan kesengan sesaat? Bagaimana jadinya jika pemuda di masa pembangunan hanya menjadikan persoalan yang menggerogoti bangsa. tiada berguna melainkan merusak.

Maka hal diatas ditentukan oleh sejauh mana para pemuda mengisi waktu yang dimilikinaya.
Ingatlah kita bahwa kepintaran dan kecerdasan tiada datang begitu saja. kehormatan tiada datang hanya dengan mengangkat tangan keatas dan memohon kepada tuhan. namun semua harus di usahakan. Maka para pemuda harus terbiasa mengisi waktunya dengan usaha-usaha yang bersifat positif. Ia adalah waktu untuk banyak membaca, mendengar, berdiskusi, dan berkarya.
Namun terkadang jiwa labilnya dan sifat cepat jenuh mengalahkan diri pemuda, sehingga perbuatannya terhenti di tengah jalan. Laykanya mobil yang kehabisan bensi, jika ingin berjalan kembali maka mobil itu harus diberikan bahan bakar kembali. Pemuda pun demikian, ia harus selalu diberi bahan bakara agar tiada berhenti. Semangat, motivasi dan yang terpenting cita-cita adalah bahan bakar utama bagi para pemuda. Untuk itu pemuda harus selalu diberikan bahan bakar ini agar terus berjalan karya dan kreasinya.

Kita harus mengetahui, bahwa seorang pemuda yang membiasakan dirinya dihiasi dengan kegiatan-kegiatan positf, maka dirinya akan menjadi pribadi yang positif. Sebaliknya, jika seorang pemuda membiasakan dirinyaterisi dengan kegiatan negatif maka begitu pulalah dirinya. Dan pemudalah yang menentukan kedua hal itu.

Pemuda tidak diperbolehkan dibiarkan kosong tanpa tugas, tanggung jawab dan kegiatan, terlibih jika ia merasa kosong padahal banyak hal yang harus ia kerjakan di depan matanya. Seperti pepatah di atas tadi. karena kekosonganlah sumber kehancura, dan kehancuran pemuda adalah kehancuran bangsan