Selasa, 16 Agustus 2011

Memanfaatkan Bumi Dengan Bijaksana


Memanfaatkan Bumi Dengan Bijaksana

Orang yang singgah di rumah seseorang untuk beberapa waktu, atau yang sering kita sebut dengan menumpang, selayaknya menjaga baik-baik harta yang terdapat di rumah itu dari tindakan tindakanya yang merugikan penghuni rumah yang ditumpanginya.
Jika kita perhatikan posisi kita sebagai manusia terhadap Allah, maka tidak ada bedanya kita dengan tamu tamu yang singgah menumpang di rumah seseorang. Karena Seluruh manusia adalah makhluk-makhluk yang menumpang di Bumi Allah.
Namun, Allah memberikan keluluasaan kepada manusia untuk bebuat hal-hal yang positif di bumi yang mereka tumpangi. Allah sediakan bagi mereka bumi yang terhampar luas yang dapat ditanami beraneka ragam tumbuhan yang memberi kehidupan bagi mereka. Allah jadikan laut terbentang dengan megahnya menyimpan beraneka ragam barang barang yang sangat bermanfaat bagi manusia, dari ikannya, karang, rumput laut dan lainnya.
Kenapa demikian, karena hal ini adalah bentuk aplikasi dariFirman Allah yang berbunyi : Inni Ja’ilun fil ardi kholifah. Sesungguhnya aku akan menjadikan dimuka bumi ini khalifah. Ini adalah bentuk legalisasi Allah atas perbuatan kita dunia. Namun, tidak sembarang pembuatan yang diizinkan, hanya perbuatan yang bertanggung jawab, terpuji dan mengikuti aturan Allah yang di izinkan.
Namun bila perbuatan yang dilakukan sebaliknya maka, maka janji Allah itu akan berganti dengan sanggahan maliakat setelah Allah Memfirmankan ayat tadi. Malaikat berkata ”Ataj’lu fiiha man yufsidu fiiha wa yasfiku addima, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqodddisulak” Artinya ”Apakah engkau hendak menjadikan makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi, padahal kami senantiasa bertasbih dan memujiMu”
Kunci dari dua kemungkinan yang akan terjadi terletak pada satu aspek, Nafsu. Manusia memang Allah lebihkan dengan akal, namun manusia juga diberikan kelemahan dengan nafsu. Ketika nafsu menguasai pikiran, maka seluruh jiwa dan raga akan tunduk kepada perbuatan yang tidak di ridhoiNya. Seorang muda-mudi yang terhanyut pada nafsu, akan masuk kedalam jurang kenistaan. Seorang pengusaha yang diliputi dengan naffsu, akan masuk kedalam perbuatan yang menyimpang demi meraih hal yang diinginkannya. Seorang pemimpin yang dikuasai nafsu akan menghalalkan segala cara untuk menraih apa yang diinginkannya.
Maka jika manusia ingin meraih janji Allah sebagai kholifah di muka bumi, terlebih dahulu haruslah ia menang atas nafsu yang diberikan kepadanya dan mengarahkannya kepada hal yang bersifat positif.
Betapa banyak manusia yang kalah dengan nafsunya. Ia rusak bumi, ia tebangi hutan tanpa iba, iya rusak laut dengan bom bom beracun, ia rusak udara dengan polusi-polusi  yang menyengsarakan masyarakat. Mereka rakus akan harta, kekuasaan, tahta dan wanita, sehingga mereka saling berperang, bermushan serta bunuh membunuh, maka benarlah apa yang dikatakan malaikat kepada Allah : ”Apakah engkau hendak menjadikan makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi, padahal kami senantiasa bertasbih dan memujiMu”
Untuk itu manusia harus memenangi pertempuran melawan nafsu yang bersembunyi di dalam hati, ia harus ingat bahwa nafsu yang tiada terkontrol hanya akan membawa kehancuran.
Alangkah indah pribadi yang bisa mengendalikan nafsunya, ia menyayangi tanaman, hewan, dan alam. Ia tidak terpengaruh dengan ketamakan dan kecintaan berlebihan akan hal-hal bersifat duniawi, ia selalu berusaha berbuat kebaikan. Ia membangun bukan meruntuhkan. Pribadi pribadi yang mampu menguasai nafsunya merekalah para khalifah sebenarnya di bumi Allah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar