Kamis, 11 Agustus 2011

Pemuda Kunci Bangsa

Teringat kembali sebuah pepatah Arab yang disampaikan oleh Ustadzku ketika berada di Pondok Pesantren. Inna al-syabâba wa al-farâgha wa al-jidata mafsadatun li al-mar’i ayya mafsadatin, “Sungguh, masa muda, kekosongan dan kelapangan rizki menjadi ‘pintu kerusakan’ bagi setiap orang”.
Masa muda adalah masa emas. namun emas ini bukanlah layaknya emas sungguhan yang tidak akan pudar kilaunya biar ditaruh dalam kondisi apapun, tidak berkarat walau di guyur air terus menerus, Namun masa muda amat rentan jatuh kedalam kesia-siaan dan menjadi tidak berarti.
Sebelum meninjau apa yang seorang pemuda harus lakukan dalam mengisi waktunya. hendaklah kita melihat betapa amat besar peran yang dapat di emban oleh pemuda dan akibat dari penyimpangannya.
Pemuda adalah tonggak kehidupan suata bangsa. Bangsa akan jaya jika pemuda ikut andil dan memberikan konstsribusi positif kepada bangsanya. Di zaman dahulu peranan pemuda sangat kentara. semua kita yakin para pembela bangsa ketika datang musuh yang ingin menyerang dan menjajah adalah para pemuda, merekalah yang maju ke garis terdepan, mengangkat senjata, menyingsingkan lengan, mencengkram tanah dengan kaki bergelora semangat membela tanah air. mengemankan pekikan kebebasan demi bangsa yang dicintainya. Para pemuda dipilih untuk ini karena hanya merekalah yang sanggup memikul beban yang amat berat.
Kita tidak meliha seorang kakek kakek yang sudah lanjut usia maju kemedan perang menghunus pedang berteriak teriak memekikan suara kebebasa. Karena masa mereka telah lalu dan mereka takkan sanggup memikul beban itu.
Ketika telah aman bangsa  dan memasuki masa pembangunan, maka pemuda dituntut untuk turut serta memajukan dan memakmurkan kehidupan. Pribadi pribadi yang tiada mengenal kata lelah dan selalu memiliki semangat yang menggelora menjadi kunci sukses kemajuan suatu bangsa. dan itu semua dimiliki oleh pemuda.
Namun ketika pemuda tidak berfungsi sebagaimana mestinya, makan ia akan menjadi mahkluk yang sangat berbahaya bagi bangsanya. ia laksan singa yang masuk kedalam sebuah perkampungan. menimbulkan kekhwatiran, keresahan, ketakutan bahkan menimbulkan banyak korban.
Bagaimana jadinya jika musuh berada di depan mata namun para pemuda mangkir dari kewajiban dan memilih untuk menikmati hidup dengan mengejar kesenangan kesengan sesaat? Bagaimana jadinya jika pemuda di masa pembangunan hanya menjadikan persoalan yang menggerogoti bangsa. tiada berguna melainkan merusak.

Maka hal diatas ditentukan oleh sejauh mana para pemuda mengisi waktu yang dimilikinaya.
Ingatlah kita bahwa kepintaran dan kecerdasan tiada datang begitu saja. kehormatan tiada datang hanya dengan mengangkat tangan keatas dan memohon kepada tuhan. namun semua harus di usahakan. Maka para pemuda harus terbiasa mengisi waktunya dengan usaha-usaha yang bersifat positif. Ia adalah waktu untuk banyak membaca, mendengar, berdiskusi, dan berkarya.
Namun terkadang jiwa labilnya dan sifat cepat jenuh mengalahkan diri pemuda, sehingga perbuatannya terhenti di tengah jalan. Laykanya mobil yang kehabisan bensi, jika ingin berjalan kembali maka mobil itu harus diberikan bahan bakar kembali. Pemuda pun demikian, ia harus selalu diberi bahan bakara agar tiada berhenti. Semangat, motivasi dan yang terpenting cita-cita adalah bahan bakar utama bagi para pemuda. Untuk itu pemuda harus selalu diberikan bahan bakar ini agar terus berjalan karya dan kreasinya.

Kita harus mengetahui, bahwa seorang pemuda yang membiasakan dirinya dihiasi dengan kegiatan-kegiatan positf, maka dirinya akan menjadi pribadi yang positif. Sebaliknya, jika seorang pemuda membiasakan dirinyaterisi dengan kegiatan negatif maka begitu pulalah dirinya. Dan pemudalah yang menentukan kedua hal itu.

Pemuda tidak diperbolehkan dibiarkan kosong tanpa tugas, tanggung jawab dan kegiatan, terlibih jika ia merasa kosong padahal banyak hal yang harus ia kerjakan di depan matanya. Seperti pepatah di atas tadi. karena kekosonganlah sumber kehancura, dan kehancuran pemuda adalah kehancuran bangsan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar