Dahulu kala di pegunungan yang tinggi di pulau sumatra terdapat satu keluarga yang memiliki tiga anak laki-laki. Anak pertama adalah akbar telah bersikap dewasa walau usianya baru 15 tahun. Yang Kedua bernama Wasat yang rajin namun mudah goyah dan tidak konsisten. dan anak terakhir bernama Wildan yang memiliki sikap manja dan pemalas.
Suatu ketika sang ibu memanggil putra-putra kesayangannya itu. Kemudian kepada masing masing anaknya ia berikan biji-biji mangga yang sama kualitasnya. Ia perintahkan putra-putranya untuk menanam biji-biji itu di tempat yang berdekatan dan merawatnya dengan baik, dan jika tiba masa panen ia perintahkan putra-putranya untuk menjual buah mangga agar bisa menghasilkan uang.
Sore harinya anak anak itu pergi ke kebun masing masing dan memulai menanam biji biji yang diberikan oleh ibunda mereka. Cangkul, alat penyiram, skop tak lupa mereka bawa agar bisa menanam dengan baik. Setelah selesai menggali dan menanam tibalah giliran untuk mengairi. Lalu mereka pun pulang kerumah, namun Akbar anak pertama tak segera pulang setelah mengairi tanamannya, ia membawa bekal lebih untuk tanaman barunya, pupuk, Segeralah ia pupuki tanamannya dan pulang kerumah.
Hari hari pun berjalan, pada bulan-bulan pertama setiap hari semua dengan rajin pergi merawat tanamnnya. Namun setelah 6 bulan berlalu, Walid, anak terkecil, mulai jarang menyirami tanamannya apalagi memupuknya, ia pun tak mengusir hama hama yang menggangu dengan tanamannya. Wasiat sedikit berbeda dengan adiknya. Ia dengan rajin menyirami tanamannya, namun hanya kadang-kadang ia memberi pupuk, dan hama hama yang hinggap tak dihiraukannya.
Akbar berbeda dengan adik-adiknya, ia sirami dengan rajin tanamannya, ia berikan pupuk secara teratur, dan jika datang hama yang mengganggu ia singkirkan sehingga tanamannya tidak samapi rusak oleh ulah hama. Namun satu minggu sebelum panen mereka harus pergi ke luar kota dan meninggalkan tanamannya berkunjung ke kuluagra mereka.
Akhirnya datanglah musim panen. Dengan semangat mereka berangkat ke kebun masing masing, dengan membawa bakul-bakul buah yang besar, mereka pergi sambil bernyaniyi ria, menyambut hasil yang akan di panen.
Alangkah terkejutnya Walid melihat pohon-pohon mangga miliknya hanya berbuah sedikit, dan ketika dipetiknya satu persatu buah, ternyata buah itu telah dimakani kalong dan hewan lainya sehingga hanya tersisia sedikit.
Tiba giliran Wasat memanen buahnya. Pohon Wasat berbuah banyak, namun sayang, ketika ia petik buah itu banyak yang kecil-kecil dan di makani oleh hewan malam.
Tibalah giliiran Akbar. Dengan semangat ia panjat dan petik satu persatu buah dari pohon mangganya. Ia sangat gembira, karena dari semua pohon yang ditanam saudara-saudaranya, pohon dialah yang paling banyak berbuah. Besar, dan hampir tidak terdapat hewan yang memakan buahnya, karena sebelum buah itu siap dipanen ia telah bungkusi satu persatu buah yang dapat dijangkaunya agar tidak dimakan oleh hewan.
Kini tersadarlah mereka bahwa sebesar usaha yang mereka lakukan. sebesar itu pulalah hasil yang mereka dapatkan. Dan usaha terbaiklah yang menghasilkan hasil terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar